Sabtu, 30 Mei 2015

#PsikologiKesehatanMental

Fenomena Child Abuse


Didalam psikologi, dikenal perilaku- perilaku menyimpang dari perilaku yang normal sebagai gejala dari gangguan mental. Penyimpangan perilaku ini dapat disebabkan oleh adanya kelainan psikis pada orang yang bersangkutan. Tetapi bisa juga disebabkan adanya stressor yang dari luar maupun lingkungan yang mempengaruhi.Gangguan mental seringkali bersifat fisik contohnya pecandu narkoba bisa menjadi agresif curiga dsb, tergantung dia memakai narkoba yang digunakannya, namun bisa murni gangguan psikologis ( mental ) misalnya depresi berat karena putus cinta atau gagal masuk perguruan tinggi negeri.
Maka dari itu saya akan membahas kesehatan mental tentang fenomena depresi. Apa yang dimaksud dengan depresi? Apa penyebab depresi? dan perawatan apa sih untuk menangani depresi? nah simak ya semoga mengerti


Menurut sarlito sarwono (2012) depresi disebut juga dengan unipolar disorder cirinya adalah low mood yaitu perasaan murung, kehilangan gairah untuk melakukan hal hal yang dilakukannya. Bisa terjadi sekali, sebentar, sering, selama hidup, bisa mendadak berat.


depresi pada orang normal dapat diartikan sebagai keadaan murung (kesedihan , patah hati, dan patah semangat) yang ditandai dengan rasa tidak puas, menurunya aktivitas, dan pesimisme di dalam mengadapi masa datang. Sedangkan depresi secara abnormal dapat diartikan sebagai ketidakmampuan yang ekstrim untuk merespon stimulus dan disertai menurunnya nilai diri, ketidakmampuan, delusi dan putus asa. (Chaplin, 1995)

Misalkan studi kasusnya pada saat pemilu banyak yang ingin menjadi caleg atau ketua dprd. Jika tidak dapat mereka bisa stress dan depresi bahkan bisa gila dikarenakan banyak yang dikeluarkan ( uang, barang, dsb) untuk menjadi seorang caleg.


Dari contoh kasus tersebut disebabkan dari standar tujuan personal yang tinggi dapat berakibat pada pencapaian dan kepuasaan akan diri. Akan tetapi saat manusia menempatkan suatu tujuan yang terlalu tinggi mereka kemungkinan untuk gagal lebih tinggi. Harapan yang terlalu tinggi. Masalah yang kecil terlalu dibesar- besarkan, melakukan penilaian yang salah. Mereka menentukan standar yang tidak realistis dan sangat tinggi, sehingga pencapaian pribadipun dinilai sebuah kegagalan. Cenderung memperlakukan diri dengan buruk karena keterbatasan mereka, dan tidak puas diri. Kegagalan inilah yang menyebabkan seseorang depresi. Bandura (1986,1997) yakin bahwa depresi diffunsi terjadi dalam salah satu dari tiga subfungsi regulasi diri : 1. Observasi diri, 
2. Proses penilaian, 
3. Reaksi diri.

Perawatan untuk menangani seseorang yang depresi adalah jika depresi itu murni tidak diperlukan perawatan, depresi ini terjadi sesekali, sebentar dan ringan. misalkan remaja yang tidak boleh malam mingguan oleh orang tuanya. Depresi yang memerlukan perawatan adalah depresi yang lama dan berat seperti contoh kasus yang tadi sehingga menggangu kehidupan sosial orang yang bersangkutan, termasuk menggangu pekerjaan, pelajaran atau pergaulan. Biasanya dilakukan psikoterapi atau psikiater untuk memberikan obat anti depresan. Namun dukungan dari sekitar, keluarga dan masyarakatlah sangat membantu dalam mengurangi maupun menghilangkan depresi. dengan berbagi cerita masalah kehidupannya. Saling mengerti dan memahami satu sama lain. Dan sebagainya.

Depresi adalah penyakit suasana hati. Jika hati sedang kalut sedih dan depresi bisa menyebabkan aktivitas terganggu, mentalnya turun dan kesehatan maupun jiwanya akan ikut juga terganggu. depresi menyebakan hidup ini tidak ada gunanya, bahkan dapat membunuh diri sendiri entah dengan bunuh diri maupun narkoba. maka bersihkan diri anda dari penyakit depresi jagalah mental anda rajinlah olahraga jika ingin badan dan tubuh yang sehat. Karena “ mensana in conpore sano” didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”



Sumber Refrensi :
Feist, Jess. Feist,Gregory J. (2011) Teori Kepribadian 2. Jakarta: Salemba Humanika
Sarwono, Sarlito W. (2012) Pengantar Psikologi Umum. Cet 4. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

#PsikologiKesehatanMental

 Hubungan antara kesehatan mental dan emosional



Apa itu Kecerdasan Emosional
Kecerdasan Emosional terdiri dari dua kata, yaitu kecerdasan dan emosi. Kecerdasan adalah suatu kemampuan umum dari seseorang dalam hal bagaimana dia memecahkan masalah hidupnya sehari-hari. Kecerdasan juga erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu. Sedangkan emosi berasal dari bahasa Perancis, émotion, dari émouvoir, ‘kegembiraan’ dan dari bahasa Latin emovere, dari e- (varian eks-) ‘luar’ dan movere‘bergerak’. Secara umum emosi adalah perasaan intens yang dikeluarkan/ditujukan kepada seseorang sebagai reaksi dari suatu kejadian, baik senang, marah, ataupun takut. Jadi, kecerdasan emosional atau yang biasa dikenal dengan EQ (Emotional Quotient) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. Pendidikan kesehatan adalah proses membantu sesorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang mempengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain. Definisi yang bahkan lebih sederhana diajukan oleh Larry Green dan para koleganya yang menulis bahwa pendidikan kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudah adaptasi sukarela terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan. Data terakhir menunjukkan bahwa saat ini lebih dari 80 persen rakyat Indonesia tidak mampu mendapat jaminan kesehatan dari lembaga atau perusahaan di bidang pemeliharaan kesehatan, seperti Akses, Taspen, dan Jamsostek. Golongan masyarakat yang dianggap ‘teranaktirikan’ dalam hal jaminan kesehatan adalah mereka dari golongan masyarakat kecil dan pedagang. Dalam pelayanan kesehatan, masalah ini menjadi lebih pelik, berhubung dalam manajemen pelayanan kesehatan tidak saja terkait beberapa kelompok manusia, tetapi juga sifat yang khusus dari pelayanan kesehatan itu sendiri.

Kesehatan Mental itu

Kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa(neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychose)Berbagai kalangan psikiatri (kedokteran jiwa) menyambut baik definisi ini. Seseorang dikatakan bermental sehat bila terhindar dari gangguan atau penyakit jiwa, yaitu adanya perasaan cemas tanpa diketahui sebabnya, malas, hilangnya kegairahan bekerja pada diri seseorang dan bila gejala ini meningkat akan menyebabkan penyakit anxiety, neurasthenia dan  hysteria. Adapun orang yang sakit jiwa biasanya akan memiliki pandangan berbeda dengan orang lain inilah yang dikenal dengan orang gila. Kesehatan mental adalah: kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat sera lingkungan tempat ia hidup.



Hubungan Kesehatan mental dengan Kecerdasan Emosional
orang yang mempunyai kesehatan mental pasti juga memiliki kecerdasan secara emosional sehingga dia dapat berhubungan sosial dengan orang banyak dan orang yang mempunyai kecerdasan emosional adalah orang yang dapat menguasai dirinya agar terhindar dari tekanan perasaan atau hal – hal yang menyebabkan dia frustasi dengan kehidupannya. orang yang cerdas secara emosional ada orang yang akan merasakan kebahagiaan dalam hidup karena tidak diliputi dengan perasaan-perasaan cemas, gelisah, dan ketidakpuasan. Sebaliknya akan memiliki semangat yang tinggi dalam menjalani hidupnya. Untuk dapat menyesuaikan diri dengan diri sendiri, harus lebih dahulu mengenal diri sendiri, menerima apa adanya, bertindak sesuai kemampuan dan kekurangan. Ini bukan berarti  harus mengabaikan orang lain.


Sumber:
Dwinanda, Ferri. 2009. Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Kinerja Karyawan Pemasaran Perusahaan Perbankan ”XxX” Tangerang. Skripsi Fakultas Psikologi Universitas Indonusa Esa Unggul: Jakarta.
Goleman, Daniel. 2002. Working With Emotional Intelligence (terjemahan). PT.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Goleman, Daniel. 2004. Kecerdasan Emosional: Mengapa EI Lebih Penting Daripada
IQ, Terjemahan oleh T. Hermaya. 2004. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Minggu, 29 Maret 2015

#PsikologiKesehatanMental Sejarah Kesehatan mental, Konsep Sehat, Perbedaan Kesehatan Mental Barat dan Timur

SEJARAH KESEHATAN MENTAL



(Tahun 1600 dan sebelumnya)
Dukun asli Amerika (Indian), sering juga disebut sebagai “penyembuh” (healer,shaman)orang yang mengalami gangguan mental dengan cara memanggil kekuatan supranatural dan mejalani ritual penebusan dan penyucian.
Pandangan masyarakat saat itu menganggap bahwa orang yang mengalami gangguan mental adalah karena dimasuki oleh roh-roh yang ada di sekitar. Mereka dianggap melakukan kesalahan kepada roh-roh atau menjadi medium dari roh-roh untuk menyatakan keinginannya. Oleh karena itu, mereka sering kali tidak dianggap sakit, sehingga mereka tidak disingkirkan dan dibuang seta masih mendapatkan tempat dalam masyarakat.
·           Tahun 1692
Mendapatkan pengaruh para imigran dari Eropa yang beragama Nasrani, di Amerika orang yang bergangguan mental saat itu sering dianggap terkena sihir/guna-guna atau dirasuki setan. Ini merupakan penjelasan yang diterima secara umum sehingga masyarakat takut dan membenci mereka yang dianggap memiliki kekuatan sihir. Bahkan pengadilan pernah memvonis 19 orang untuk digantung karena dianggap memiliki sihir. Padahal mereka yang dianggap memiliki kekuatan sihir kemungkinan besar mengalami gangguan mental sehingga hidup mereka tampak aneh dan berbeda bagi kebanyakan orang.
Sejarah kesehatan mental di Eropa, khususnya Inggris, agak sedikit berbeda, sebelum abad ke-17, orang gila disamakan dengan penjahat/kriminal, sehingga mereka dimasukkan ke dalam penjara.
John Locke (1690) dalam tulisannya yan berjudul An Essay Concerning Understanding, menyatakan bahwa terdapat derajad kegilaan dalam diri setiap orang yang disebabkan oleh emosi yang memaksa orang untuk memunculkan ide-ide salah dan tidak masuk akal secara terus-menerus. Kegilaan adalah ketidakmampuan akal untuk mengeluarkan gagasan yang berhubungan dengan pengalaman secara tpat. Pandangan John Locke ini bertahan di Eropa sampai abad ke-18.

·          Tahun 1724
Pendeta Cotton Mather (1663-1728) mematahkan tahkhayul yang hidup di masyarakat berkaitan dengan sakit jiwa dengan memajukan penjelasan secara fisik mengenai sakit jiwa itu sendiri. Pada saat ini benih-benih pendekatan secara medis mulai dikenalkan, yaitu dengan memberikan penjelasan masalah kejiwaan sebagai akibat gangguan yang terjadi di tubuh.
Pada abad ke-17 dan 18 individu yang menderita penyakit mental berada dalam penderitaan yang besar di tangan masyarakat Amerika. Mereka dilihat sebagai seorang yang dirasuki setan atau dicirikan sebagai dikuasai sifat-sifat kebinatangan sehingga mereka menjadi subjek penanganan yang menyedihkan. Penyiksaan fisik maupun mental merupakan hal yang umum dan penggunaan pembatas fisik yang meluas seperti jacket yang ketat dengan tangan yang berat dan kaki yang dirantai-mengeluarkan pasien dari martabat dan kebebasannya. Para pendiri  pada abad ke 19, seperti Phillip Pinel di Perancis dan Dorothea Dix, membuat lompatan besar dengan mempromosikan penanganan manusiawi bagi penderita penyakit mental, tetapi kondisinya masih jauh dari ideal. Phillipe Pinel ditunjuk sebagai dokter yang mengawasi Rumah sakit Bicetre, Paris (rumah sakit jiwa untuk pria) pada tahun 1793. Dia memutuskan uuntuk tidak meranntai pasien gila. Dia kemudian ditempatkan di Salpetriere (rumah sakit jiwa untuk wanita) pada tahun 1795.

·          Tahun 1812
Benjamin Rush (1745-1813) menjadi salah satu pengacara mula-mula yang menangani masalah penanganan secara manusiawi untuk penyakit mental dengan publikasinya yang berjudul Medical Inquiries and Observations Upon Diseases of the Mind.  Ini merupakan buku tesk psikiatri Amerika pertama.
Antara tahun 1830-1860 di Inggris timbul optimisme dalam menangani pasien sakit jiwa (Therapeutic Optimism).  Hal ini disebabkan berkembangkannya teori dan teknik dalam menangani orang sakit jiwa di rumah sakit jiwa. Pada masa ini tumbuh kepercayaan bahwa penanganan di rumah sakit jiwa merupakan hal yang benar dan cara ilmiah untuk menyembuhkan kegilaan. Pada tahun 1842 psikiater mulai masuk dan mendapatkan peranan penting di rumah sakit, menggantikan ahli hukum yang selama ini ternyata membuahkan kegagalan, maka tidak lama kemudian muncul masa terapi psimisme (therapeutic pesimism) . ini teruma dipengaruhi oleh sosialisme. Darwin menyatakan bahwa gangguan mental adalah perkembangan evolusi sehingga merupakan bawaan dan tidak mungkin diubah lagi.
·           Tahun 1843
Kurang lebih terdapat 24 rumah sakit, tapi hanya ada 2.561 tempat tidur yang tersedia untuk menangani penyakit mental di Amerika Serikat.
·          Tahun 1908
Clifford Beers (1876-1943) menderita manis depresif pada tahun 1900. Dia merupakan lulusan Yale dan seorang bisnisman, yang kemudian mengalami gangguan setelah mengalami sakit dan saudara laki-lakinya meninggal. Setelah mencoba bunuh diri, Dia di masukkan ke rumah sakit mental swasta di Connecticut. Dia menjadi subjek penanganan yang tidak  manusiawi dan mengalami penyiksaan fisik dan mental di bawah kekuasaan orang  yang tidak terlatih dan tidak kompoten di rumah sakit.     Beers kemudian menghabiskan beberapa tahun di berbaggai negeri Middletown, Connecticut. Penanganan tidak manusiawi yang diterimanya di institusi ini mencetuskan keberanian untuk memperbaharui perawatan bagi individu yang menderita penyakit mental di Amerika Serikat. Pada tahun 1908 dia menulis buku yang berjudul A Mind That Found Itself, merupakan laporan pengalamannya sendiri sebagai pasien sakit mental dan secara jelas menggambarkan kekejaman lembaga perawatan. Buku tersebut memberikan akibat yang segera, menyebarakan visinya mengenai gerakan kesehatan mental. Beers kemudian mendirikan Masyarakat Connecticut untuk Mental Higiene yang kemudian pada tahun berikutnya berubah menjadi Komite Nasional untuk Mental Higience (the National for Mental Hygience). Yang merupakan pendahulu Asosiasi Kesehatan Mental Nasional sekarang ini.
Tujuan Asosiasi ini adalah untuk:
-          Memperbaiki sikap masyarakat terhadap penyakit mmental dan penderita dan penderita sakit mental.
-          Memperbaiki pelayanan terhadap penderita sakit mental
-          Bekerja untuk pencegahan penyakit mental dan mempromosikan kesehatan mental.
·          Tahun 1909
Sigmund Freud mengunjungi Amerika dan mengajar psikoanalisa di Universitas Clarck di Worcester, Massachusetts.
·         Tahun 1910
Emil Kraeplin pertama kali menggambarkan penyakit Alzheimer. Dia juga mengembangkan alat tes yang dapat digunakan untuk medeteksi adanya gangguan epilepsi.
·         Tahun 1918
Asosiasi Psikoanalisa Amerika membuat aturan bahwa hanya orang yang telah lulus dari sekolah kedokteran dan mejalankan praktek psikiatri yang dapat menjadi calon  untuk pelatihan psikoanalisa.
·         Tahun 1920-an
Komite Naional untuk Mental Higiene menghasilkan satu set model undang-undang komitmen yang dimasukkan ke dalam aturan pada beberapa negara bagian. Komite juga mmembantu penelitian-peenelitian yang berpengaruh pada kesehatan mental, penyakit mental, dan treatmen yang membawa perubahan nyata pada sistem perawatan kesehatan mental.
Harry Stack Sullivan yang mengawasi pasien Scizhofrenia di Rumah Sakit Sheppard-Pratt Hospital menunjukkan pengaruh lingkungan terapeutik ketika para paien dapat dikembalikan ke masyarakat.
Pada tahun 1920-1930 di Eropa terjadi perubahan treatmen dalam menangani gangguan mental. Perubahan ini berkat pengaruh teori Freud yang pada masa itu menjadi terkenal. Perubahan treatmen tersebut meliputi :
-          Treatmen di dalam rumah sakit kurang diminati, diganti treatmen yang dilakukan di luar rumah sakit.
-          Treatmen di lakukan tidak memerlukan sertifikasi
-          Treatmen dilakukan dirumah sakit.
·         Tahun 1930-an
Psikiater lebih menginjeksikan insulin yang menyebabakan shock dan koma sementara sebagai suatu treatmen untuk penderita schizofrenia.
·         Tahun 1936
Agas Moniz mempublikasikan suatu laporan mengenai lobotomi frontal manusia yang pertama. Akibatnya antara tahun 1936 sampai pertengahan 1950-an, diperkirakan 20.000 prosedur pembedahan ini digunakan terhadap pasien mental Amerika.
·          Tahun 1940-an
Elektropika, yaitu terapi dengan cara menngaplikasikan listrik ke otak. Pertama kali digunakan di rumah sakit Amerika untuk menangani penyakit mental. Pada tahun 1940-an-1950 dimulainya perawatan masyarakat bagi penderita gangguan mental Inggris.
·          Tahun 1947-an
Fountain House di New York City memulai rehabilitasi psikiatrik untuk orang-orang yang mengalami sakit mental.
·         Tahun 1950
Dibentuk National Association of Mental Health (NAMH) yang merupakan merger dari tiga organisasi, yaitu National Commite for Mental Hygiene, National Mental Health Foundatio, dan Psychiatric Foundation. Lembaga baru ini melanjutkan misi Beers dengan lebih jelas. Melalui program televisi, distribusi literatur dan media lainnya. NAMH melanjutkan mendidik publik Amerika pada isu-isu kesehatan mental-mental dan mempromosikan kesadaran akan kesehatan mental.
·          Tahun 1952
Obat antiseptik konvensional pertama, yaitu chlorpromazine, diperkenalkan untuk menangani pasien schizoprenia dan gangguan mental utama lainnya.
·         Tahun 1960-an
Obat-obat antisptik konvensional, seperti haloperidol, digunakan pertama kali untuk mengontrol simtom-simtom yang positif (nyata) pada penderita psikosis, yang memberikan ukuran yang nyata dan penting karena membuat pasien tenang. Hal ini memberikan ukuran yang nyata dan penting karena membuat pasien tenang. Hal ini kemudian menjadi keharusan untuk digunakan pada permulaan  bagia pasien yang gaduh dan kacau. Lithium kemudian diketemukan dan menjadi obat yang merevolusi treatmen bagi penderita manis depresif.

Media Inggris mulai mengungkapkan kesehatan mental dengan menampilkan orang-orang yang pernah mengalami sakit mental untuk menceritakan pengalamn mereka. Pada masa ini segala hal yang tabu berkaitan dengan mental mulai dibuka dan dibicarakan secara umum.


KONSEP SEHAT 

Sehat (health) adalah konsep yang tidak mudah diartikan sekalipun dapat kita rasakan dan diamati keadaannya. Misalnya, orang tidak memiliki keluhankeluahan fisik dipandang sebagai orang yang sehat. Sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa orang yang “gemuk” adalah otrang yang sehat, dan sebagainya. Jadi faktor subyektifitas dan kultural juga mempengaruhi pemahaman dan pengertian orang terhadap konsep sehat. 
Sebagai satu acuan untuk memahami konsep “sehat”, World Health Organization (WHO) merumuskan dalam cakupan yang sangat luas, yaitu “keadaan yang sempurnan baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat”. Dalam definisi ini, sehat bukan sekedar terbebas dari penyakit atau cacat. Orang yang tidak berpenyakit pun tentunya belum tentu dikatakan sehat. Dia semestinya dalam keadaan yang sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial.

Pengertian sehat yang dikemukan oleh WHO ini merupakan suatau keadaan ideal, dari sisi biologis, psiologis, dan sosial. Kalau demikian adanya, apakah ada seseorang yang berada dalam kondisi sempurna secara biopsikososial? Untuk mendpat orang yang berada dalam kondisi kesehatan yang sempurna itu sulit sekali, namun yang mendekati pada kondisi ideal tersebut ada. 
Dalam kaitan dengan konsepsi WHO tersebut, maka dalam perkembangan kepribadian seseorang itu mempunyai 4 dimensi holistik, yaitu agama, organobiologik, psiko-edukatif dan sosial budaya

Ciri-ciri tingkah laku sehat

l  Warga (1983)

Ciri-ciri individu sehat/normal adalah:

1.                  Bertingkahlaku menurut norma2 sosial yang diakui.
2.                  Mampu mengelola emosi.
3.                  Mampu m’aktualkan potensi-potensi yang dimiliki.
4.                  Dapat mengikuti kebiasaan-kebiasaan sosial.
5.                  Dapat mengenali resiko dari setiap perbuatan dan kemampuan tersebut digunakan untuk                   menuntun tingkah lakunya.
6.                  Mampu menunda keinginan sesaat untuk mencapai tujuan jangka panjang.
7.                  Mampu belajar dari pengalaman.
8.                  Biasanya gembira.





PERBEDAAN KESEHATAN MENTAL BARAT DAN TIMUR


Budaya Barat dan Timur ternyata memiliki perbedaan yang mendasar mengenai konsep sehat-sakit. Perbedaan ini kemudian memengaruhi sistem pengobatan di kedua kebudayaan. Akibatnya, pandangan mengenai kesehatan mental juga berbeda. Namun dengan kemajuan teknologi dan komunikasi yang membuat relasi antar manusia semakin mengglobal, pertemuan antara kedua budaya ini tidak lagi dapat dihindari sehingga sekarang ini ditemui berbagai cara penanganan kesehatan yang mencoba mengintegrasikan sistem pengobatan antara kedua kebudayaan.  (Siswanto. 2007. Kesehatan Mental. Yogyakarta: Penerbit ANDI. 13-14)

Konsep kesehatan mental berhubungan erat dengan efisiensi menta, dan kadang-kadang kedua konsep tersebut disamakan. Sudah pasti kesehatan dalam bentuk apa pun merupakan dasar untuk efisiensi, dan Jones melihat efisiensi sebagai salah satu di antara ketiha segi kesehatan mental dan normalitas (kedua segi yang lain adalah kebahagiaan dan adaptasi terhadap kenyataan). Tetapi konsep efisiensi mempunyai arti sendiri, yakni pengunaan kapasitas-kapasitas untuk mencapai hasil sebaik mungkin dalam keadaan yang ada pada waktu itu. (Semiun, Yustinus OFM. 2006. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 48-49)
Ada hubungan yang jelas antara konsep penyesuaian diri dan kesehatan mental, tetapi hubungan tersebut tidak mudah ditetapkan. Pasti kesehatan mental merupakan kondisi yang sangat dibutuhkan untuk penyesuaian diri yang baik, dan demikian pula sebaliknya. Apabila seseorang bermental sehat, maka sedikit kemungkinan ia akan mengalami ketidakmampuan menyesuaikan diri yang berat. Kita dapt berkata bahwa kesehatan mental adalah kunci untuk penyesuaian diri yang sehat (Scott, 1961)

Sejaran kesehatan mencatat ternyata konsep sehat tidak jelas, lebih banyak ditemui konsep tentang sakit. Ini membuat pemahaman tentang sehat dan kesehatan juga mengalami kekacauan. Batasan tentang kesehatan yang tidak jelas mengakibatkan manusia tidak memiliki pegangan yang baku untuk mencapai derajat kesehatan yang harus dicapai.

Ada perbedaan antara model kesehatan Barat dengan model kesehatan Timur. Barat memandang kesehatan bersifat dualistik melihat tubuh manusia sebagai mesin dan dipengaruhi oleh dominasi media. Sementara Timur lebih bersifat hilistik, melihat kesehatan secara menyeluruh, saling mengait sehingga memengaruhi cara-cara penanganan terhadap penyakit.

Meskipun konsep sehat mental tidak lah jelas dan masik mengalami perkembangan, tapi ada beberapa ciri tingkah laku sehat menjadi ciri standar untuk menunjukkan sehat tidaknya individu melalui berbagai pendekatan dalam Kesehatan Mental. (Siswanto. 2007. Kesehatan Mental 1.Yogyakarta: Penerbit ANDI. 31)



Jumat, 31 Oktober 2014

#Pinternet: Psikoterpi via Internet

Web counseling
Penelitian terbesar terkait dengan implikasi teknologi dalam konseling pernah dilakukan pada tahun 1990-an. Hasil-hasil penelitian tersebut adapat dikategorikan mnejadi 3 wilayah utama, yaitu penyimpanan rekaman konseling, analisis data, cybercounseling atau konseling melalui internet, dan cyberlearning (Yusop, et.al: 2006)
Koutsonika (2009) menyebutkan bahwa konseling online pertama kali muncul pada dekade 1960 dan 1970 dengan perangkat lunak program Eliza dan Parry, pada perkembangan awal konseling online dilakukan berbasis teks, dan sekarang sekitar sepertiga dari situs menawarkan konseling hanya melalui e-mail (Shaw & Shaw dalam Koutsonika, 2009). Karena kemajuan teknologi metode lain juga digunakan seperti livechat, konseling telepon dan konseling video.
Istilah konseling online merupakan dua kata yaitu kata ”konseling” berasal dari kata ”Counseling” (Inggris) dan kata ”online”. Kata konseling mengacu kepada individual konseling (konseling perorangan) yaitu proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien”. (Prayitno dan Erman Amti, 2004).
Jadi, konseling online adalah usaha membantu (therapeutic) terhadap klien/konseli dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi, komputer dan internet.
Proses Web Counseling
1. Tahap I (Persiapan)
Tahap persiapan mencakup aspek teknis penggunaan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software), yang mendukung penyelenggaraan konseling online. Seperti perangkat komputer/laptop yang dapat terkoneksi dengan internet/Ethernet, headset, mic, webcam dan sebagainya. Perangkat lunak yaitu program-program yang mendukung dan akan digunakan, account dan alamat email. Selain itu juga kesiapan Konselor dalam hal ketrampilan, kelayakan akademik, penilaian secara etik dan hukum, kesusuaian isu yang akan dibahas, serta tata kelola.
2. Tahap II ( Proses Konseling)
Tahapan konseling online tidak jauh berbeda dengan tahapan proses konseling face-to-face (FtF) tahapan (Prayitno. 2004) yaitu terdiri atas lima tahap yakni tahap, pengantaran, penjajagan, penafsiran, pembinaan dan penilaian namun dalam pelaksanaannya “kontinum fleksibel” dimana saling berhubungan dan bersambung sesuai tahap dan lebih terbuka untuk dimodifikasi, mulai dari tahap awal sampai tahap akhir, juga penggunaan teknik-teknik umum dan khusus tidak secara penuh seperti penyelenggaraan konseling secara langsung. Pada sesi konseling oneline lebih menekankan pada terentasnya masalah klien dibandingkan dengan cara bentuk pendekatan, teknik dan atau terapi yang digunakan. Pada tahapan ini pemilihan teknik, pendekatan dan ataupun terapi akan disesuaikan dengan masalah yang dihadapi oleh klien.
3. Tahap III ( Pasca Konseling)
Tahap tiga yaitu tahap pasca proses konseling online. Pada tahap ini merupakan lanjutan dari tahapan sebelumnya dimana setelah dilakukan penilaian maka yang pertama (1) konseling akan sukses dengan ditandai dengan kondisi klien yang KES (effective daily living- EDL) (2) Konseling akan dilanjutkan ada sesi tatap muka (Face to Face- FtF) (3) Konseling akan dilanjutkan pada sesi konseling online berikutnya dan (4) klien akan direferal pada Konselor lain atau ahli lain.
Adanya kendala yang muncul berkaitan dengan penggunaan web counseling, seperti :
Berkomunikasi melalui online tidaklah sama dengan berkomunikasi langsung (tatap muka). Dengan web counseling, adanya kesulitan mengenai ketidakmampuan untuk mengamati dan membaca bahasa tubuh si klien. Namun hal ini, sudah dapat diatasi dengan cara baik konselor ataupun klien harus mampu mengekspresikan diri mereka secara tulisan sebaik mereka menggunakan bahasa untuk bercakap sehari-hari. Menurut Barak dan Weibhaupt, yang menyatakan bahwa kehangatan dan simpati dapat bisa ditunjukkan melalui internet, dan seiring berjalannya waktu kepercayaan dan penerimaan akan dapat dikembangkan. Di Queensland, beberapa waktu lalu memperkenalikan web counseling bernama KHL (Kids Help Line). King (3006), melakukan survey terhadap anak muda dan pengalaman mereka dengan terapi email dan konseling online. Hasilnya menunjukkan bahwa anak muda juga menggunakan bahasa khusus untuk komunikasi online. 
Beberapa negara yang menggunakan web counseling :
Australia
Beberapa agensi pemerintahan di Australia sudah mulai mengoperasikan konseling online. Seperti konseling online untuk narkoba dan alcohol dapat diperoleh melalui layanan yang disebut “Turning Point” (https://www.counsellingonline.org.au). Layanan ini disediakan gratis kepada klien. KHL yang berlokasi di Queensland menyediakan konseling online secara synchronous (chat) dan asynchronous (email) untuk kaum muda yang dengan usia sampai 18 tahun.
Singapore
Sebuah layanan yang sangat sukses bernama “Metoyou” menyediakan konseling online untuk mendukung anak muda di sekolah. Layanan ini diperkenalkan pada tahun 2000, dan dioperasikan dengan mengenakan biaya kepada sekolah untuk keanggotaan. Siswa-siswi di sekolah mendapatkan password dan dapat mengakses layanan ini mulai pukul 2.30pm – 5.30pm dari hari senin hingga jumat. Jika ada siswa yang mempunyai masalah yang penting, mereka dapat mengirim email pada layanan ini diluar waktu yang telah ditentukan dan seseorang akan memberikan respon.
Ketika pengguna sudah login, mereka akan diminta memasukkan nama depan, username, dan password sekolah.kemudian mereka akan masuk pada “waiting room”, disini mereka dapat memilih dengan konselor mana yang mereka ingin untuk berkonsultasi.
Di Indonesia sendiri tidak ada informasi pasti tentang kapan awalnya muncul istilah e-konseling, meskipun sebelumnya istilah ini ada yang menyebutnya dengan istilah cyber konseling, virtual konseling dan sebagainya. Namun secara khusus Ifdil (2009) memperkenalkan istilah Pelayanan E-Konseling di Indonesia. Istilah ini merangkaikan kata pelayanan dan kata e-konseling. Pelayanan e-konseling tidak hanya terbatas pada penyelenggaraan konseling (istilah yang paling populer untuk mengebut konseling individual) saja, namun diperluas menjadi penyenggaraan BK secara keseluruhan dengan bantuan teknologi. Tidak hanya online konseling melalui internet namun juga semua aspek pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi lainnya dalam penyenggaraan BK. Seperti penggunaan dan pemanfaatan program pengolahan instrumentasi, himpunan data siswa, aplikasi manajemen konseling, pemanfaatan media saat pemberian layanan klasikal di kelas dan sebagainya termasuk juga pemanfaatan telepon untuk penyelenggaraan konseling.
Ifdil (2009) Sejak lahirnya istilah Pelayanan e-konseling dan sebelumnya telah banyak dikembangkan berbagai aplikasi penunjang penyelenggaraan BK di Indonesia seperti Program Aplikasi untuk pengolahan Alat Ungkap Masalah (AUM), Program Analisis Tugas Perkembangan (ATP), Program Daftar Cek Masalah (DCM), Program Aplikasi IKMS, Program Database Siswa, Program E-sosiometri, Sistem Informasi Managemen Bimbingan dan Konseling (SIMBK) dan sebagainya termasuk lahirnya berbagai situs-situs penyedia layanan konseling online.
Situs-situs Konseling Online secara khusus memanfaatkan berbagai media online lainnya yang bisa digunakan untuk penyelenggaraan konseling online seperti jejaring sosial misalnya facebook, twitter, myspace; email; dan beberapa program aplikasi untuk chatting (instant messaging) seperti skype, messenger, google talk, window livemessenger; bahkan penggunaan telepon dan handphone serta media khusus teleconference lainnya.
Pelayanan ini dilakukan konselor dalam upaya membantu mengentaskan dan menangani permasalahan klien. Gibson (2008) menyebutkan pelayanan ini dilakukan oleh konselor untuk memberikan kenyamanan bantuan yang dibutuhkan konseli ketika menghadapi suatu masalah dan tidak mungkin dilakukan secara face to face(Gibson: 2008).
Beberapa tahun kedepan kebutuhan akan pelayanan konseling secara online akan meningkat (Mallen: 2005). Konseling online akan menjadi alternatif dalam penyelenggaraan konseling. Kondisi tersebut mau tidak mau, mengharuskan para guru bk/konselor untuk menguasai keterampilan pelayanan e-konseling secara umum dan konseling online secara khusus.
Sumber :
http://www.cphjournal.com/archive_journals/V3_I1_Moulding_25-32_2007.pdf
https://www.academia.edu/1160145/Pengembangan_Media_Layanan_Konseling_Melalui_Internet_di_Perguruan_Tinggi
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=66312&val=4796

#Pinternet: Internet addiction

Internet Addiction



Weiss (dalam Weiten & Llyod, 2006) mengungkapkan bahwa loneliness tidak hanya disebabkan karena kesendirian yang dialami individu, tetapi karena tidak adanya hubungan tertentu yang diharapkan individu tersebut. Loneliness selalu muncul sebagai respon terhadap ketidakhadiran beberapa atau tipe - tipe hubungan khusus, atau lebih tepatnya sebuah respon terhadap ketidakadaan suatu hubungan yang diharapkan. dan teori dari Shaver & Rubeinsten (dalam Brehm, 2002) mengungkapkan bahwa individu yang mengalami loneliness menunjukkan beberapa reaksi untuk menghadapi loneliness yang dialaminya, diantaranya melakukan kegiatan aktif (seperti belajar, bekerja, melakukan hobi, membaca, menggunakan internet), membuat kontak sosial (seperti menelepon, chatting atau mengunjungi seseorang), melakukan kegiatan pasif (seperti menangis, tidur, tidak melakukan apapun), dan melakukan kegiatan selingan yang kurang membangun (seperti menghabiskan uang dan berbelanja). Beberapa aktivitas yang dilakukan individu yang mengalami loneliness tidak dapat menghasilkan kepuasan yang lebih tinggi dalam kehidupan sosialnya, bahkan kemungkinan justru dapat menyebabkan individu tersebut semakin sulit dalam membangun hubungan sosial yang lebih baik. Individu yang mengalami loneliness membutuhkan strategi coping yang lebih aktif dan positif terhadap loneliness yang dialaminya (Rook, dalam Brehm, 2002). saya setuju sekali dengan 2 teori diatas karena loneliness tidak selalu disebabkan oleh kesendirian yang dialami oleh individu bisa jadi disebabkan oleh tidak adanya hubungan khusus yang diharapkan oleh individu tersebut. Setelah individu merasakan loneliness pasti individu itu melakukan hal - hal yang disebutkan pada teori diatas, tapi pada saat seorang loneliness lebih banyak melakukan kegiatan yang berhubungan dengan internet. Saya mengambil contoh pada 2 teori ini adalah apabila seorang ingin mempunyai hubungan khusus seperti pacaran tetapi kenyataannya individu tersebut tidak mendapatkan respon untuk mendapatkan hubungan khusus itu sehingga membuat individu tersebut merasa sendiri lalu individu tersebut melampiaskannya dengan bermain internet untuk mengusir kejenuhan atau menghibur kesendiriannya.
Young (1998) diungkapkan sebagai sebuah sindrom yang ditandai dengan menghabiskan sejumlah waktu yang yang sangat banyak dalam menggunakan internet dan tidak mampu mengontrol penggunaannya saat online. orang - orang yang menunjukkan sindrom ini akan merasa cemas, depresi atau hampa saat tidak online internet (Kandell dalam Weiten & Llyod, 2006). penggunaan internetnya sangat berlebihan, sehingga pada akhirnya mengganggu fungsinya dalam pekerjaan, disekolah, atau dirumah, serta menyebabkan korbannya mulai menyembunyikan tingkat ketergantungannya terhadap internet tersebut (Young, 1996).
Goldberg (1997) menyebut kecanduan internet dengan internet addiction disorder yaitu pola penggunaan internet yang maladaptif, yang menghasilkan pengerusakan atau distress secara klinis yang terwujudkan dalam tiga atau lebih kriteria internet addiction disorder, yang terjadi kapanpun selama 12 bulan yang sama. Kriteria diagnostik kecanduan internet dari Young (1996; 1999) yang terdiri dari merasa keasyikan dengan internet, perlu waktu tambahan dalam mencapai kepuasan sewaktu sewaktu menggunakan internet, tidak mampu mengontrol, mengurangi, atau menghentikan penggunaan internet, merasa gelisah, murung, depresi, atau lekas marah ketika berusaha mengurangi atau menghentikan penggunaan internet, mengakses internet lebih lama dari yang diharapkan, kehilangan orang-orang terdekat, pekerjaan, kesempatan pendidikan, atau karir gara-gara penggunaan internet, membohongi keluarga, terapis, atau orang-orang terdekat untuk menyembunyikan keterlibatan lebih jauh dengan internet, dan menggunakan internet sebagai jalan keluar mengatasi masalah atau menghilangkan perasaan seperti keadaan tidak berdaya, rasa bersalah, kegelisahan, atau depresi.
            Secara umum mahasiswa adalah suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya dalam ikatannya dengan perguruan tinggi (Sarwono, 2002). Di Indonesia, secara umum mahasiswa berusia sekitar umur 18- 21 tahun. Berdasatkan usia tersebut, mahasiswa dapat dikategorikan sebagai remaja akhir.

a. Pengaruh Loneliness Terhadap Internet Addiction Pada Individu Dewasa Awal Pengguna Internet

Individu dalam tahapan dewasa awal dengan tugas perkembangan membentuk hubungan intim dengan orang lain, maka kebutuhan akan intimasi merupakan unsure pokok dalam kepuasan suatu hubungan. Menurut Erikson, keintiman merupakan salah satu krisis dalam hidup, yaitu intimacy versus isolation, yang dikembangkan pada usia dewasa awal. Apabila individu dewasa awal dapat membentuk persahabatan yang sehat dan hubungan dekat yang intim dengan individu lain, maka intimasi akan tercapai, namun jika individu tidak berhasil mengembangkan intimasinya, maka individu tersebut akan mengalami isolasi dan merasakan loneliness.

Loneliness diartikan oleh Peplau & Perlman sebagai perasaan dirugikan dan tidak terpuaskan yang dihasilkan dari kesenjangan antara hubungan social yang diinginkan dan hubungan social yang dimiliki. Tiga elemen dari definisi loneliness yaitu pengalaman subyektif, tidak adanya hubungan tertentu yang diharapkan individu tersebut, dan individu yang mengalami loneliness menunjukkan beberapa reaksi untuk menghadapi loneliness yang dialaminya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi loneliness adalah usia, status perkawinan, gender, status social ekonomi, karakteristik latar belakang lainnya. Saat ini internet dianggap sebagai salah satu cara untuk mengurangi loneliness. internet telah memungkinkan dihubungkannya computer-komputer di belahan dunia tertentu dengan computer-komputer lain di belahan dunia yang lain. Hal ini memungkinkan pula dihubungkannya individu yang satu dengan yang lain dari berbagai belahan dunia. Internet telah memberikan kesempatan yang lebih luas sehingga orang-orang dapat saling berkenalan dan mengembangkan hubungan melalui layanan hubungan secara online, email, chat room, dan news group. Penggunaan internet sebagai salah satu cara untuk mengurangi loneliness. internet addiction oleh Young diungkapkan sebagai sebuah sindrom yang ditandai dengan menghabiskan sejumlah waktu yang sangat banyak dalam menggunakan internet dan tidak mampu mengontrol penggunaannya saat online. Orang-orang yang menunjukkan sindrom ini akan merasa cemas, depresi, atau hampa saat tidak online di internet.

Berdasarkan pemaparan diatas, maka terdapat hubungan positif antara loneliness dan internet addiction pada penggunaan internet. Peneliti ingin meneliti sejauh mana pengaruh loneliness terhadap internet addiction pada individu dewasa awal pengguna internet.
Variabel bebas yaitu loneliness, dan variabel tergantung internet addiction. Subjek penelitian adalah individu dewasa awal berusia 18 tahun ke atas, mengalami loneliness, memiliki kecenderungan mengalami internet addiction, dan telah menggunakan internet lebih dari 12 bulan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode pengambilan data dengan skala atau disebut dengan metode skala yang terdiri dari skala loneliness dan skala internet addiction. Metode analisis data menggunakan tekhnik analisis linear dengan persamaan y = a + bX, dan pengolahan data dilakukan dengan menganalisa menggunakan bantuan program SPSS for windows 15.0 version.
Masih ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi internet addiction pada penggunaan internet, Graham mengungkapkan bahwa internet addiction dipengaruhi oleh faktor genetic, biologis, pengaruh keluarga, pengaruh budaya, dan pengaruh social. 
Terdapat pengaruh positif loneliness terhadap internet addiction pada pengguna internet. Artinya semakin tinggi loneliness yang dirasakan pengguna internet maka semakin tinggi internet addiction yang dirasakan (dan sebaliknya). Sumbangan efektif variabel loneliness terhadap variabel internet addiction adalah 12,8 % artinya loneliness memberikan pengaruh sebesar 12,8 % terhadap internet addiction, sedangkan 87,2 % disebabkan oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. berdasarkan data hipotetik, skor total variabel loneliness dibagi atas tiga kategori yaitu : tinggi, sedang, dan rendah. Secara umum, loneliness yang dialami oleh subjek penelitian tergolong sedang. Tidak ada perbedaan loneliness pada pengguna internet ditinjau dari usia. Namun dengan membandingkan mean data dari subjek penelitian ini diperoleh bahwa mean loneliness tertinggi dialami oleh subjek yang berada pada rentang usia 34-38 tahun dan paling rendah pada rentang usia 29-33 tahun.
Tuapattinaja, Josseta.M.R., Rahayu, Nina.(2009). Pengaruh loneliness terhadap internet addiction.Pengaruh loneliness terhadap internet  pada individu dewasa awal pengguna internet.4(2).49-54.
b. Kesepian dan Kecenderungan Internet Addiction Disorder terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Gunadarma


Abstrak:
Setiap individu adalah berbeda dan tidak semuanya dapat menjalin hubungan social dengan baik tanpa rintangan yang berarti. Kegagalan atau hambatan dalam interaksi social yang memuaskan dapat mengakibatkan seseorang merasa terisolasi dan kesepian serta dapat menimbulkan akibat-akibat yang tidak baik. Kesepian merupakan kondisi yang tidak menyenangkan.
Adanya perkembangan yang pesat dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi, yaitu adanya internet, seseorang yang kesepian akan menghabiskan waktunya untuk menjelajahi internet (surfing,browsing,dll). Mereka menghabiskan perasaan kesepiannya tersebut dengan cara memasuki dunia on-line atau menjelajahi cyberspace selama beeberapa jam.
Beranjak dari penjabaran mulai dari awal sampai tersebut diatas dan sehubungan dengan semakin banyaknya penguna dan penyedia jasa internet maka timbul minat dari peneliti untuk meneliti : Apakah ada peranan kesepian dan kecenderungan internet addiction disorder terhadap prestasi belajar mahasiswa? Apakah ada hubungan antara kesepian dengan prestasi belajar mahasiswa? Apakah ada hubungan antara kecenderungan internet addiction disorder dengan prestasi belajar mahasiswa? Dan Apakah ada hubungan antara kesepian dengan kecenderungan internet addiction disorder dengan prestasi belajar mahasiswa?
Tujuan Penelitian :
Penelitian ini bertujuan untuk menguji : Peranan kesepian dan kecenderungan internet addiction disorder terhadap prestasi belajar mahasiswa, hubungan antara kesepian dengan prestasi belajar mahasiswa, hubungan antara kecenderungan internet addiction disorder dengan prestasi belajar mahasiswa, hubungan antara kesepian dengan kecenderungan internet addiction disorder dengan prestasi belajar mahasiswa.
Metodologi :
- Variabel Bebas          : “Kesepian dan Kecenderungan Internet Addiction
Disorder”
- Variabel Terikat        : “Prestasi Belajar”
Subjek
Subjek dalam  penelitian ini adalah mahasiswa pria dan wanita dari Universitas Gunadarma yang merupakan Universitas yang berbasis komputer, mahasiswa yang mengerti dan telah menggunakan internet, sehingga pemilihan sample menggunakan tekhnik purposive sampling dan data ini juga menggunakan kiusioner.
Tempat
Kampus Universitas Gunadarma.
Tahapan Penelitian
Menggunakan dua instrument penelitian yaitu skala kesepian memiliki 49 item valid, dengan koefisien validitas berkisar 0,6261-0,9709 dan koefisien reliabilitas 0,9827. Skala kecenderungan internet addiction disorder memiliki 42 item valid, dengan koefisien validitas berkisar 0,3039-0,6414 dan koefisien reliabilitas 0,9323. Selain itu digunakan pula kuisioner yang berisi 9 item untuk mengungkapkan pola penggunaan internet.
Model Penelitian
Menggunakan matematis yaitu dengan tekhnik statistik regresi dan teknik statistik korelasi
Hasil dan Kesimpulan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada peranan kesepian dan kecenderungan internet addiction disorder yang signifikan terhadap prestasi belajar mahasiswa, tidak ada hubungan yang signifikan antara kesepian dengan prestasi belajar mahasiswa, tidak ada hubungan yang signifikan antara kecenderungan internet addiction disorder dengan prestasi belajar mahasiswa, tidak ada hubungan yang signifikan antara kesepian dengan kecenderungan internet addiction disorder pada mahasiswa. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa subjek penelitian memiliki tingkat kesepian dan kecenderungan internet addiction disorder yang rendah.
Ada beberapa kemungkinan yang melatarbelakangi ditolaknya hipotesis, yakni adanya variable-variabel lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa, yaitu faktor internal dan faktor eksternal mahasiswa. Dan mahasiswa menggunakan internet bukan hanya karena kesepian atau kecenderungan internet addiction disorder, melainkan untuk mencari tugas, mencari lowongan pekerjaan, dan memanfaatkan fasilitas internet lainnya.
Saran dan Usulan lanjutan
Kesepian dan Kecenderungan Internet Addiction Disorder merupakan suatu penyakit yang jangan sampai kita memilikinya apalagi bisa mempengaruhi prestasi belajar kita. Sebenarnya internet terdapat banyak hal yang positifnya, misalkan mencari pekerjaan, mencari informasi, mengetahui berita atau info yang lagi update dll. Sehingga saat kita merasa kesepian jangan menggunakan internet terlalu berlebihan ataupun disalahgunakan pemakaiannya.
Usulan lanjutan : Sebaiknya jangan menggunakan internet yang terlalu berlebihan dan gunakanlah internet seperlunya saja dan jangan sampai disalahgunakan, supaya prestasi belajar kita tidak merosot tajam.
Mukodim, Didin., Ritandiyono., Ratnasita, Harumi.(2004). Kesepian dan  kecenderungan internet addiction disorder terhadap prestasi belajar mahasiswa gunadarma. Kesepian dan Kecenderungan Internet Addiction Disorder terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa.

c. Differential Psychological Impact of Internet Exposure on Internet Addicts 

 

 
Abstrak:
Penelitian yang meneliti tentang dampak yang terlihat secara segera dari internet yang berkaitan dengan mood dan tingkatan psikologis dari internet addict dan pengguna internet yang rendah tingkatanya.Internet addict berhubungan dengan depresi yang lama, impulsive nonconformity, dan sikap autism.Penggunaan internet yang tinggi menggambarkan adanya penurunan dalam mood diikuti dengan pengguna internet dibandingkan pengguna internet yang rendah.Dampak yang akan segera dilihat dari penggunaan internet pada internet addict mungkin berkontibusi dalam menaikkan pemakaian dalam pemaikan dengan orang-orang yang berusaha mengurangi mood mereka yang rendah dengan menghubungkan internet secara cepat.
Metode: Pernyataan Etik
Persetujuan etik pada penelitian ini diperoleh Depertamen KomitePsychological etik, Swansea etik. Partisipan menyediakan informasi yang di tuliskan yang mengarah pada penelitian ini, dan Komite etik menyetujui prosedurnya.
Partisipan:
60 orang yang bersedia menjadi partisipan dalam pembelajaran psikologi di sekitar kampus.
Materials:
Ø  Internet Addiction Test (IAT)
Ø  Positive and negative affect schedule (PANAS)
Ø  Speilberger Trait-State Anxiety Inventory
Ø  Beck’s Depression Inventory (BDI)
Ø  Oxford Liverpool Inventory of Feelings and Experiences-Brief Version (O-Life (B))
Ø  Autistic Spectrum Question Questionnaire (AQ)
Prosedur:
Partisipan berada pada ruangan yang tenang, duduk, lalu diminta untuk mengisi baterai psikologi test. Setelah mengisi test-test nya psikologi, partisipan di perbolehkan mengakses internet melalui computer selama 15 menit.Halaman website sengaja tidak terekam dalam computer, hal ini sudah dikatakan secara explicit kepada partisipan.Prosedur ini di adopsi untuk menyemangati mereka mengunjungi site manapun yang mereka inginkan, terlepas dari situs yang berubungan sepantasnya. Setelah 15 menit mereka diminta untuk mengisi PANAS dan STAI kuessioner.
Hasilnya:





Korelasi Spearman mengungkapkan  korelasi yang kuat antara internet addict (BDI) dan depresi, schizotypal impulsive nonconformity (OLIFE IN), dan juga sikap Autism (AQ). Dan ada juga hubungan yang melemahkan antara internet addict dan kecemasan yang lama (STAI-T) dan mood negative (PANAS).
Sample terbagi dalam  rata-rata nilai IAT untuk menghasilkan kelompok problematic pengguna internet yang low dan high. Rata-rata untuk IAT adalah 41.Menghasilkan kelompok lower problematic (n = 28, mean = 29.5+7.9; 13 laki-laki, 15 perempuan), dan kelompok high problematik(n = 32, mean 50.3+7.2; 18laki-laki, 18 perempuan).Ada kecemasan setelah pemaparan internet dari kelompok lower problematic dibandingkan kelompok high problematic, Mann Whitney U=318,5, p<05 001.="" 001="" 05="" 20="" ada="" berubah="" dampak="" dari="" dasar="" dibandingkan="" high="" internet="" kecemasan="" kedua="" kelompok.="" kelompok="" kuat="" lower="" memperlihatkan="" menggunakan="" menunjukan="" mood="" negative="" p="" pemaparan="" perilaku="" positive="" problematic.="" problematic="" problematicmenunjukan="" ps="" relative="" sebelum="" semua="" signifikan="" tetap="" tetapi="" tidak="" turunnya="" u="234," untuk="" wilxocon="" yang="" z="3,31,"> 10.
Diskusi:
Penelitian yang baru ini betujuan untuk meneliti perbedaan yang berpotensial dari dampak internet yang dipaparkan dari “internet addict” di bandingkan dengan penggunaan kelompok problamtic. Hasilnya menunjukan dampak negative yang mengejutkan dari mood positive dari internet addict.Dampaknya sudah terdapat pada model teorikal internet addict dan pencarian sejenis juga sudah mencatat persyaratan efek negative dalam penjelasan intterent addict pornografi dalam sex internet, yang memungkinkan adanya kesamaan pada addiction ini. Penting juga untuk menyarankan dampak mood yang negative dipertimbangkan sebagai efek penarikan awal, disarankan untuk kebutuhan klasifikasi addiction.Pemakaian internet yang berlebihan bisa terlepas dari pertahanan dan pengisian diri, berhubungan dengan prilaku mood yang rendah. Kurangnya dampak dari kecemasan terlihat dalam masalah penggunaan internet dalam penjelasan internet juga mengobervasi masalah antara internet addict dan bentuk lain dari masalah perilaku. Hubungan antara internet addict, depresi, dan schizotypal impulsive nonconformity sudah diketahui. Bagaimanapun internet addict berhubungan kuat dengan sikap autism dan tidak dipungkiri mungkin sama dengan hubungan sebelumnya antara isolasi social dan internet addiction.
Harusnya ada beberapa keterbatasan yang disebutkan dalam penelitian ini. Dalam experiment ini partisipan hanya diberikan waktu 15 menit untuk menjelajah internet, dan dampak dari mood ini telah dinilai. Walaupun rentang waktu yang diberikan sudah cukup untuk menghasilkan dampak dari mood yang dihitung dengan skala terbaru, tiidak diketahui berapa lama waktu yang diperlukan atau hanya dinamuka sementara dari perubahan mood dan kecemasan selama penjelasan internet diketahui baru-baru saja. Ditambah lagi, konten dari situs yang dikunjungi partisipan tidak termonitor di experiment ini. Tidak jelas apa situs apa yang partisipan kunjungi, tentu saja ini tidak bisa disimpulkan situs ini merupakan situs yang biasanya mereka gunakan. Jelas,jika situs ini termasuk situs pornografi dan judi maka tidak terlihat situs ini akan dikunjungi pada konteks yang mereka lakukan baru-baru saja. Bagaimanapun, keterbatasan yang ada, tetap tidak diketahui apakah dampak dari mood diperoleh dari konteks ini akan serupa dengan konteks lain yang diobservasi.
Diambil bersamaan dari penelitian sebelumnya, hasil ini membantu kita membentuk gambaran distal dan proximal penyebab dari penggunaan internet yang berlebihan. Mereka dengan depresi dan kecemasan yang lama berhubungan dengan isolasi social. Bagaimanapun individu yang mempunyai pengalaman dampak negative dalam mood yang positive dalam penjelasan internet mungkin nantinya dipicu untuk keluar dari penggunaan internet yang berlebihan menyarankan mekanisme yang mungkin mempertahankan penggunaan internet addict.
Romano M, Osborne LA, Truzoli R, Reed P (2013) Differential Psychological Impact of Internet Exposure on Internet Addicts. PLoS ONE 8(2): e55162. doi:10.1371/journal.pone.0055162