Selasa, 03 November 2015

#PsikologiManajemen

Nama Anggota Kelompok Matahari :

- Antonny
- Jodi Wicaksono
- Mega Novianda
- Noddie Maharizky
- Victor Favian Ramadhan
- Ruthiany Zara Monica 




     LEADERSHIP

PENDAHULUAN

kepemimpinan ialah suatu kemampuan seorang pemimpin mempengaruhi anggotanya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah "melakukannya dalam kerja" dengan praktik seperti pemagangan pada seorang seniman ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi

1.      Definisi kepemimpinan (Leadership)

A.    Menurut (Sullivan & Decker) 

Kepimpinan ialah penggunaan keterampilan seseorang dalam mempengaruhi orang lain untuk melaksanakan sesuatu dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan

B.     Menurut P. Pigors (1935)

Kepemimpinan ialah proses dorong mendorong lewat keberhasilan sebuah interaksi dari berbagai perbedaan individu, mengontrol daya seseorang dalam mengejar tujuan bersama.

C.     Menurut George R. Terr
Kepemimpinan merupakan suatu hubungan yang ada didalam diri seseorang atau pemimpin dan mempengaruhi orang lain agar mau bekerja dengan sadar dalam hubungan tugas agar tercapainya sebuah tujuan yang diinginkan

A, Teori Kepimpinan Partipan
       Teori x dan teori y
1) Teori X         Teori ini menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk pemalas yang tidak suka bekerja serta senang menghindar dari pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Pekerja memiliki ambisi yang kecil untuk mencapai tujuan perusahaan namun menginginkan balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi. Dalam bekerja para pekerja harus terus diawasi, diancam serta diarahkan agar dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan perusahaan.

2) Teori Y
         Teori ini memiliki anggapan bahwa kerja adalah kodrat manusia seperti halnya kegiatan sehari-hari lainnya. Pekerja tidak perlu terlalu diawasi dan diancam secara ketat karena mereka memiliki pengendalian serta pengerahan diri untuk bekerja sesuai tujuan perusahaan. Pekerja memiliki kemampuan kreativitas, imajinasi, kepandaian serta memahami tanggung jawab dan prestasi atas pencapaian tujuan kerja.


B. Rensis Likert membagi 4 gaya dasar kepemimpinan organisasional

1. Otokrat Eksploratif

Manajer mengambil semua keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan dan memerintahkan serta mengekplorasi bawahan dalam pelaksanaan.

2. Otokrat Penuh Kebajikan

Manajer tetap menentukan perintah-perintah kerja tapi bawahan di beri keleluasaan dalam pelaksanaan.

3. Partisipatif

Manajer menggunakan gaya konsultatif yaitu meminta masukan dari bawahan tapi tetap menahan hak untuk membuat keputusan.

4. Demokratik

Manajer memberikan berbagai pengarahan pada bawahan tapi juga memberikan partisipasi total dan keputusan di buat bersama-sama dengan keputusan suara mayoritas.

    1. Teori Of Leadership Pattern Choice Dari Tannenbaum & Scmidt
·         Perilaku tersebut bertitik tolak daridua pandangan dasar:
               1. berorientasi pada pemimpin ( bidang pengaruh pimpinan)
               2. berorientasi pada bawahan (bidang pengaruh kebebasan bawahan).

·      Dari dua pandangan dasar tersebut selanjutnya dikembangkan tujuh model gaya kepemimpinan dalam pembuatan keputusan yang dilakukan pemimpin :
                1)      pemimpin membuat dan mengumumkan keputusan terhadap bawahan (teiling)
                2)      pemimpin menjual dan menawarkan keputusan terhadap bawahan (selling)
                3)      pemimpin menyampaikan ide dan mengundang pertanyaan 
                4)      pemimpin memberikan keputusan tentatif, dan keputusan masih dapat diubah
                5)      pemimpin memberikan problem dan minta saran pemecahannya pada bawahan                            6)      pemimpin menentukan batasan-batasan dan minta kelompok membuat keputusan
               7)      pemimpin mengizinkan bawahan berfungsi dalam batas_batas yang di tentukan (joining).

·         Menurut Tannenbaum dan Schmidt dalam pemilihan gaya kepemimpinan yang efekti faktor   yang harus dipertimbangkan oleh seorang pemimpin yaitu:
            1)      Kekuatan yang ada pimpinan: meliputi latar belakang pendidikan, latar belakang kehidupan                pribadi, pengetahuan, nilai-nilai hidup yang dihayati,kecerdasan, pengalaman.
            2)     Kekuatan yang ada bawahan: tingkat kebutuhan bawahan akan tanggung jawab dan                              kebebasan bertindak dalam pembuatan keputusan.
           3)      Tingkat pengetahuan dan berpengalaman yang dimiliki bawahan dalam bekerja.
D.  Modern Choice Approach To Participation Konsep Decision Tree of Leadership dariVroom & Yetton
·         Normative Theory dari Vroom and Yetton sebagai berikut :
1)       AI (Autocratic)         : Pemimpin memecahkan masalah atau membuat keputusan secara unilateral,                                          menggunakan informasi yang ada.
2)      AII (Autocratic)         : Pemimpin memperoleh informasi yang dibutuhkan dari bawahan namun                                                setelah membuat keputusan unilateral
3)       CI (Consultative)      : Pemimpin membagi permasalahan dengan bawahannya secara perorangan,                                            namun setelah itu membuat keputusan secara unilateral.
4)      CII (Consultative)      : Pemimpin membagi permasalahan dengan bawahannya secara berkelompok                                          dalam rapat, namun setelah itu membuat keputusan secara unilateral.
5)      GII (Group Decision) : Pemimpin membagi permasalahan dengan bawahannya secara berkelompok                                        dalam rapat; Keputusan diperoleh melalui diskusi terhadap konsensus.

Normative Theory: Rules Designed To Protect Decision Quality (Vroom & Yetton, 1973) :
1)      Leader Information Rule: Jika kualitas keputusan penting dan anda tidak punya cukup informasi a       atau ahli untuk memecahkan masalah itu sendiri, eleminasi gaya autucratic.
2)      Goal Congruence Rule: Jika kualitas keputusan penting dan bawahan tidak suka untuk membuat          keputusan yang benar, aturlah keluar gaya partisipasi tertinggi.
3)      Unstructured Problem Rule: Jika kualitas keputusan penting untuk anda kekurangan cukup                  informasi dan ahli dan masalah ini tidak terstruktur, eliminasi gaya kepemimpinan autocratic.
4)      Acceptance Rule: Jika persetujuan dari bawahan adalah krusial untuk implementasi efektif,                  eliminasi gaya autocratic.
5)      Conflict Rule: Jika persetujuan dari bawahan adalah krusial untuk implementasi efektif, dan                mereka memegang opini konflik di luar makna pencapaian beberapa sasaran, eliminasi gaya                autocratic.
6)      Fairness Rule: Jika kualitas keputusan tidak penting, namun pencapaiannya penting, maka                    gunakan gaya yang paling partisipatif.
7)      Acceptance Priority Rule: Jika persetujuan adalah kritikan dan belum tentu mempunyai hasil dari        keputusan autocratic dan jika bawahan tidak termotivasi untuk mencapai tujuan organisasi,                  gunakan gaya yang paling partisipatif.

E.   Teori Kepemimpinan Dari Konsep Contigency Theory Of Leadership Dari Fiedler
Model kontingensi dari Fred Fridler, mengusulkan bahwa efektifitas kinerja sebuah kelompok tergantung pada adanya kecocokan antara gaya seseorang pemimpin dikala berinteraksi dengan bawahannya dan tergantung  pada derajat kontrol dan pengaruh situasi pada pemimpin. Friedler kemudian mengembangkan kuesioner LPS (Least Prefered Co Worker), dimana responden (pemimpin) di minta untuk memikirkan atau membayangkan seorang teman sekerjanya yang paling menjengkelkan atau paling sulit di ajak kerjasama.
  1.        Mengidentifikasikan Gaya Kepemimpinan
     2.        Mendefinisikan Situasi
·  Terdapat tiga dimensi situasional yang dapat menjadi factor kunci untuk menetapkan   efektifitas kepemimpinan :
a)  hubungan pimpinan-bawahan.
b)  struktur tugas.
c)  kekuatan posisi.

3.    Mencocokan Pemimpin dengan Situasi
Skor LPC seseorang dapat menentukan tipe situasi yang mana yang palin cocok buat gaya kepemimpinannya. Ada dua cara untuk dapat meningkatkan efektifitas kepemimpinan :
      a)      Menggantikan pemimpin untuk bisa cocok dengan situasinya, 
      b)      Menggantikan situasi untuk bisa cocok dengan pemimpin.
4.    Sumber Kognitif : Perbaikan dari Model Fiedler
Ada dua dimensi yang di kemukakan di sini :
 a)      Para pemimpin yang intelegen dan kompeten akan meformulasikan perencanaa-perncanaan,                keputusan-keputusan, dan tindakan-tindakan strategis yang lebih efektif.
 b)      Para pemimpin mengkomunikasikan rencana-rencana, keputusan-keputusan clan strategi mereka        yang lebih melalui perilaku direktif
     F.  Teori Kepemimpinan Dari Konsep Path Goal Theory
·         Pada intinya, teori path-goal menjelaskan empat perilaku pemimpin, yaitu (Wahjono, 2010 : 284):
               1)      Pemimpin direktif, mengarahkan tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana                               caranya, menjadwalkan pekerjaan, mempertahankan standar kinerja, dan memperjelas                         peranan pemimpin dalam kelompok.
               2)      Pemimpin suportif, melakukan berbagai usaha agar pekerjaan menjadi lebih                                         menyenangkan, memperlakukan pengikut dengan adil, bersahabat, dan mudah bergaul                         serta memperhatikan kesejahteraan bawahannya.
              3)      Pemimpin partisipatif, melibatkan bawahan, meminta saran bawahan dan                                              menggunakannya dalam proses pengambilan keputusan.
        4)      Pemimpin yang berorientasi pada kinerja, menentukan tujuan-tujuan yang menantang,                        mengharap kinerja yang tinggi, menekankan pentingnya kinerja yang berkelanjutan,                            optimistik dan memenuhi standar-standar yang tinggi.

Selasa, 27 Oktober 2015

#PsikologiManajemen

KELOMPOK BUNGA MATAHARI

-  Antony
-  Jodi Wicaksono
-  Mega Novianda 
-  Noddie Maharizky
-  Ruthiany Zara Monica 
 - Viktor Favian Ramadhan 



PENDAHULUAN


Kekuasaan dapat diperoleh karena posisi seseorang (kekuasaan jabatan) dan karena pengaruh pribadi atas orang lain. Di dalam organisasi kedua macam kekuasaan tersebut dapat terjadi. Kekuasaan jabatan bergantung kepada setinggi apakah jabatan yang dimiliki seseorang. Semakin tinggi jabatan, akan semakin tinggi pula kekuasaan yang diperoleh. Meskipun demikian, dalam hal tertentu kekuasaan yang dimilikinya juga dibatasi oleh kekuasaan yang dimiliki orang lain.
Kekuasaan pribadi bergantung kepada sejauh mana orang lain mempercayai, mendukung, menghormati dan terikat kepada pemegang kekuasaan pribadi.Demikian pula, di dalam organisasi kekuasaan seringkali cenderung berlangsung secara timbal balik antara atasan dan bawahan. Hal ini dimungkinkan oleh adanya saling membutuhkan di antara mereka. Atasan mempunyai kekuasaan atas bawahan, tetapi sebaliknya bawahan juga dapat mempengaruhi kekuasaan yang dimiliki atasan dengan hasil karya (kinerja) yang ditunjukkan oleh bawahan.


TEORI

A.    Definisi Kekuasaan
Menurut Walterd Nord, Pengertian Kekuasaan ialah suatu kemampuan untuk mempengaruhi aliran energi dan dana yang tersedia untuk mencapai suatu tujuan yang berbeda secara jelas dari tujuan lainnya.
Bierstedt memberikan pernyataan mengenai Pengertian Kekuasaan yaitu kemampuan untuk mempergunakan kekuatan.
Pengertian Kekuasaan Menurut Rogers adalah kemampuan seseorang untuk mengubah orang atau kelompok lain dalam cara yang spesifik, contohnya dalam kekuasaan dan pelaksanaan kerjanya

.
B.    Sumber-Sumber Kekuasaan Menurut French dan Raven
1. Coercive Power (Kuasa Paksaan) adalah kemampuan untuk menghukum atau memperlakukan seseorang yang tidak melakukan permintaan atau perintah. Diperoleh dari salah satu kapasitas untuk membagikan punishment pada mereka yang tidak mematuhi permintaan atau perintah. Kekuasaan ini juga bisa dibilang kekuasaan karena rasa takut oleh seseorang yang memiliki kuasa dalam suatu hal. Karena hal itulah orang-orang yang menjadi bawahan atau pengikutnya, menjadi tunduk dan mau untuk melakukan perintah yang diberikan oleh orang yg berkuasa itu. Karena jika mereka tidak mengikuti apa yang diperintahkan, maka bawahan/pengkutnya tersebut akan mendapatkan sebuah hukuman. Contoh dari Coercive power adalah : misal, seorang atasan memberikan pemotongan gaji terhadap karyawan/bawahannya, karena bawahaanya tersebut telah melanggar peraturan perusahaan, bahkan jika kesalahan bawahannya tersebut fatal, maka si atasan akan melakukan pemecatan terhadapnya, atau seorang guru memberikan hukuman terhadap siswanya, dengan memberikan tugas yang banyak. Menurut Molm, 1987,1988 Seseorang juga menggunakan Coersive untuk mempengaruhi anggota grup lain, walaupun kebanyakan orang lebih memilih untuk menggunakan reward power daripada coersive power jika keduanya tersedia.

2. Insentif Power (Reward Power)
Reward power adalah suatu sikap yang patuh /tunduk yang dicapai berdasarkan kepatuhan/kemampuan untuk memberikan reward (imbalan) agar dipandang orang lain berharga, Seseorang akan patuh terhadap orang lain, jika dijanjikan akan diberikan sebuah imbalan yang sesuai dengan prestasinya. Selain itu reward power juda bisa diartikan kemampuan dalam mengontrol distribusi dalam pemberian reward atau menawarkan pada grup lainnya. Contoh dari Reward Power adalah bisa dalam bentuk : Bintang emas untuk murid, gaji untuk karyawan, persetujuan sosial untuk subyek dalam eksperimen, positif feedback untuk karyawan, makanan untuk orang kelaparan, kebebasan untuk narapidana, dan bahkan bunuh diri untuk yang merasa hidupnya tersiksa.

3. Legitimate Power (Kuasa yang sah)
Legitimate power adalah Pemimpin memperoleh hak dari pemegang kekuatan untuk memerlukan dan menuntut ketaatan. Seseorang yang telah memiliki legitimate power, akan menuntut bawahan atau pengikutnya untuk selalu taat pada peraturannya. Karena legitimate power memiliki definisi lain, yaitu kekuatan yang bersumber dari otoritas yang dapat dipertimbangkan hak untuk memerlukan dan pemenuhan perintah. Contoh daro Legitimate Power adalah : Pegawai polisi mengatakan penonton untuk pindah jika berada dalam suatu konser/pertunjukan musik, dosen menunggu isi kelas diam dan tenang sebelum mengajarkan materinya.

4. Expert power (Kekuasaan Pakar)
Pengaruh berdasar pada kepercayaan target bahwa pemegang kekuatan memiliki keahlian dan kemampuan yang superior dalam bidangnya. Seseorang yang memang ahli dalam bidangnya, akan mudah untuk menguasai/ mempengaruhi orang lain.Para anggota dalam suatu kelompok, pasti memiliki skill dan kemampuan yang berbeda. Maka dari itulah, suatu kelompok tercipata untuk saling melengkapi kekurangan anggota kelompki lainnya. Namun pada dasarnya, French dan Raven seseorang tidak perlu menjadi ahli untuk mendapatkan kekuatan ahli. Orang tersebut hanya perlu diterima oleh orang lain sebagai seorang yang ahli (Kapolwitz,1978; Littlepage & Mueller,1997). Sebenarnya, seseorang tidak harus memaksakan diri untuk menjadi seseorang yang ahli. Karena, sebenarnya kemampuan apapun yang kita miliki, tidak hanya kita yang menilai, tapi kita pun perlu pe
nilaian dari orang lain. Contoh dari expert power adalah : seorang pasien percaya pada hasil diagnose dokter atas pentakit yang dideritanya, seseorang percaya pada seorang ilmuwan pada bidang, karena ilmuwan tersebut telah membuktikan hasil penelitiaanya.

5. Referent Power (Kekuasaan Rujukan)

Pengaruh yang didasarkan pada pemilikan sumber daya atau ciri pribadi yang diinginkan oleh seseorang, berkembang dari rasa kagum terhadap orang lain, untuk menjadi seperti orang yang dikaguminya itu, dikarenakan adanya karisma. Selain itu, Referent power juga menjelaskan bagaimana charismatic leader (seberapa tinggi komitmen anggota tersebut pada kelompoknya) mengatur untuk menggunakan banyak kontrol dalam grup mereka. Siapakah anggota yang paling baik, paling disukai, paling dihargai dsb. Contoh dari referent power adalah : Misalnya seorang pengikut dalam suatu kelompok, sangat mengagumi ketua kelompoknya, karena ketua kelompoknya tersebut memiliki pribadi yang kompeten, baik hati, bersikap mengayomi kepada semua pengikutnya, dan tidak pernah bersikap otoriter.


DAFTAR PUSTAKA 

Miftah, T. (2005). Perilaku Organisasi (Konsep Dasar dan Aplikasinya). Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Stephen P. Robbins, T. A. (2007). Organizational Behavior. New Jersey: Pearson.

Selasa, 13 Oktober 2015

#PsikologiManajemen

KELOMPOK BUNGA MATAHARI
 
- Anntony
- Jodi Wicaksono
- Mega Novianda
- Noddie Maharizky 
- Ruthiany Zara Monica 
- Victor Favian Ramadhan 


PENGARUH 


PENDAHULUAN 

      Kekuasaan adalah sebuah kekuatan yang dimiliki oleh seseorang ataupun kelompok yang bertujuan untuk menggerakkan orang-orang di sekitarnya guna mencapai tujuan yang telah dicanankan sebelumnya. Akibat dari kekuasaan yang ada ini adalah menimbulkan pengaruh-pengaruh yang mungkin timbul dan terjadi serta dampaknya terhadap orang-orang disekitarnya.
Dewasa ini, banyak orang yang berkuasa serta mampu mempengaruhi orang disekitarnya dengan sangat dominan. Namun, masalahnya disini apakah orang yang berkuasa tersebut mampu menggunakan kekuasaannya dengan bijak agar dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh yang positif di sekelilingnya.

         Sebagai seorang mahasiswa dan calon pemimpin masa depan, sangat penting bagi kami untuk mempelajari, merenungkan dan mempraktikkan kekuassan yang mungkin kita dapatkan dan pengarung-pengaruh apa saja yang akan timbul. Kita tidak bisa mengesampingkan efek-efek apa saja yang timbul karena efek tersebut berdampak langsung dengan kepentingan orang banyak dan menibulkan perspektif yang beragam di dalamnya.


A.    Definisi Pengaruh
Pengaruh menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah daya yang ada dan timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuataan seseorang. Dari pengertian di atas telah dikemukakan sebelumnya bahwa pengaruh adalah merupakan sesuatu daya yang dapat membentuk atau mengubah sesuatu yang lain.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi pengaruh menurut para ahli:
1.     Wiryanto
Pengaruh merupakan tokoh formal mauoun informal di dalam masyarakat, mempunyai ciri lebih kosmopolitan, inovatif, kompeten, dan aksesibel dibanding pihak yang dipengaruhi.

2.     Robert Dahl
A mempunyai pengaruh atas B sejauh ia dapat menyebabkan B untuk berbuat sesuatu yang sebenarnya tidak akan B lakukan.

3.     Albert R. Roberts & Gilbert
Pengaruh adalah wajah kekuasaan yang diperoleh oleh orang ketika mereka tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan.

B.    Kunci-Kunci Perubahan Perilaku
Kunci perubahan masyarakat adalah membentuk daya intelektual dan perbuatan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, sehingga terjadilah perubahan perilaku yang secara otomatis diikuti dengan perubahan masyarakat.
Perilaku yang akan menjadi kunci perubahan di masyarakat adalah sikap yang mampu melalui berbagai benturan dengan gemilang, adanya kepercayaan diri tanpa batas, dan tekad untuk terus berjuang hingga titik nadir. Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan baik disadari maupun tidak.
-         Courage                         : Diperlukan keberanian, kebulatan, tekad dan keteguhan hati
-         High confidence            : Kekuatan penggerak hidup anda
-         Attitude                         : Mental yang positif
-         New action                    : Tindakan yang benar-benar konsisten
-         Goal                               : Target atau tujuan yang benar-benar diinginkan
-         Excellence                     : Menjadi yang terbaik

C.    Model Mempengaruhi Orang Lain
Aristotle yang menyatakan terdapat 3 pendekatan dasar dalam komunikasi yang mampu mempengaruhi orang lain, yaitu:

1.     Logical argument (logos)
Penyampaian ajakan menggunakan argumentasi data-data yang ditemukan. Hal ini telah disinggung dalam komponen data.

2.     Psychological / emotional argument (pathos)
Penyampaian ajakan menggunakan efek emosi positif maupun negatif.

3.     Argument based on credibility (ethos)
Ajakan atau arahan yang dituruti oleh komunikate/ audience karena komunikator mempunyai kredibilitas sebagai pakar dalam bidangnya.

D.    Wewenang
Wewenang (authority) adalah hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar tercapai tujuan tertentu.
Penggunaan wewenang secara bijaksana merupakan faktor kritis bagi efektevitas organisasi. Peranan pokok wewenang dalam fungsi pengorganisasian, wewenang dan kekuasaan sebagai metoda formal, dimana manager menggunakannya untuk mencapai tujuan individu maupun organisasi. Wewenang formal tersebut harus di dukung juga dengan dasar-dasar kekuasaan dan pengaruh informal. Manajer perlu menggunakan lebih dari wewenang resminya untuk mendapatkan kerjasama dengan bawahan mereka, selain juga tergantung pada kemampuan ilmu pengetahuan, pengalaman dan kepemimpinan mereka.

Selasa, 06 Oktober 2015

#PsikologiManajemen


KELOMPOK: BUNGA MATAHARI 
- ANNTONY 
- NODDIE MAHARIZKY
- RUTHIANY ZARA MONICA
- VICTOR FAVIAN RAMADHAN 
- JODI WICAKSONO
- MEGA NOVIANDA 


KOMUNIKASI



PENDAHULUAN 


Komunikasi merupakan hal penting yang tidak bisa lepas dari seluruh bidang kehidupan. Tiap orang tentu pernah melakukannya, karena pada hakekatnya manusia adalah makhluk soaial yang selalu bergantung pada manusia lain.  Sehingga satu-satunya cara dan alat yang digunakan agar tetap bisa saling berhubungan adalah dengan berkomunikasi satu sama lain.  Baik itu melalui komunikasi sederhana maupun komunikasi yang tergolong canggih karena proses penyampaiannya melalui saluran yang disebut media massa.

Kegiatan berkomunikasi perannnya sangat besar.  Saat berkomunikasi dengan orang lain, secara sadar atau tidak kita sudah meperoleh hal-hal yang berguna untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.  Walaupun tidak jarang, dengan berkomunikasi juga memberikan efek negatif jika kita tidak ketat melakukan proses penyaringan.  Dengan seringnya melakukan komunikasi akan melatih kita bagaimana caranya berbahasa yang baik dan benar, sopan santun jika berbicara dengan orang lain, serta membuat kita tidak lagi merasa canggung berbicara di hadapan orang banyak.  Tidak berlebihan jika beberapa ahli menggolongkan komunikasi sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia selain sandang, pangan dan papan.


Oleh sebab itu dalam tulisan ini akan menjabarkan sedikit mengenai hal tentang  komunikasi. Kami akan membahas penjelasan tengan komunikasi dan dimensi-dimensi dalam komunikasi. Dengan begitu pembaca nantinya diharapkan mengetahui dan mengerti penjelsan mengenai apa itu komunikasi.
\

DEFINISI KOMUNIKASI 

TEORI

Kata komunikasi berasal dari bahasa Latin communicatio yang berarti “pemberitahuan” atau “pertukaran pikiran”. Jadi secara garis besar dalam suatu proses komunikasi haruslah terdapat unsur-unsur kesamaan makna agar terjadi suatu pertukaran pikiran dan pengertian antara komunikator (penyebar pesan) dan komunikan (penerima pesan).

Proses komunikasi dapat diartikan sebagai “transfer informasi” atau pesan (message) dari pengirim pesan sebagai komunikator kepada penerima sebagai komunikan. Dalam proses komunikasi tersebut bertujuan untuk mencapai saling pengertian (mutual understanding) antara kedua pihak yang terlibat dalam proses komunikasi, komunikator mengirimkan pesan/informasi kepada komunikan sebagai sasaran komunikasi. Berikut adalah definisi komunikasi menurut para pakar

21.  Komunikasi adalah suatu proses interaksi yang mempunyai arti antara sesama manusia                       (Delton E, Mc Farland).

32. Komunikasi adalah proses yang menggambarkan siapa mengaratakan apa dengan cara apa,                 kepada siapa denganefek apa (Laswell)

13. Rogers & D. Lawrene Kincaid, 1981, komikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lain nya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam.

24. Shannon & Weaver, 1949, komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau tidak sengaja. tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni dan teknologi.

35. Everett M. Rogers. komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.


DIMENSI KOMUNIKASI


Dimensi Isi
Dimensi isi disandi secara verbal dan menunjukkan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa yang di katakan. Dalam komunikai massa, dimensi isi merujuk pada isis peran
.
Dimensi Arah
Komunikasi dalam konteks ini dibagi menjadi dua, yaitu komunikasi satu arah dan komunikai dua arah. Komunikasi satu arah merupakan satu orang memberikan informasi kepada orang lainnya tanpa ada timbal balik, sedangkan komunikasi dua arah merupakan komunikasi dimana satu orang memberikan informasi ke orang lain, dan orang lain juga membeikan informasi, sehingga terjadi pertukaran informasi diantara keduanya.

Dimensi Kebisingan
Noise atau kebisingan adalah segala sesuatu yang ada ilingkungan komunikasi yang dapat mengganggu kelancaran berlangsungnya penyanpaian pesan tersebut. Gangguan tersebut bisa berupa karena adanya alat-alat yang bersuara keras, lingkungan yang berisik, gangguan lain, atau karena kurangnya kondisi fisik atau psikologis penerima pesan. Gangguan ini muncul bila komunikasi bersifat lisan/verbal.

Dimensi Jaringan
Yang dimaksud dengan jaringan komunikasi adalah saluran yang di gunakan untuk meneruskan pesan dari orang yang satu ke orang yang lain. Jaringan ini dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, kelompok kecil sesuai dengan sumber daya yang dimilikinya akan mengembangkan pola komunikasi yang menggabungkan beberapa struktur jaringan komunkasi. Jaringan komunikasi ini kemudian merupakan sistem komunikasi umum yng akan digunakan oleh kelompok dalam mengirimkan pesan dari satu orang ke rang lainnya. Kedua, jaringan komunikasi ini bisa di pandang sebagai struktur yang diformalkan yang diciptakan oleh organisasi sebagai sarana komunikasi organisasi.



DAFTAR PUSTAKA

Ismainar, H. (2015). Manajemen Unit Kerja. Yogyakarta: Deepublish.

Ruky, A. S. (2002). Sukses sebagai Manajer Profesional tanpa Gelar MM atau MBA. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Suprapto, T. (2009). Pengantar Teori & Manajemen Komunikasi. Jakarta: Media Pressindo.

Supratiknya, A. (1995). Komunikasi Antar Pribadi, Tinjauan Psikologis.



















Sabtu, 30 Mei 2015

#PsikologiKesehatanMental

Fenomena Child Abuse


Didalam psikologi, dikenal perilaku- perilaku menyimpang dari perilaku yang normal sebagai gejala dari gangguan mental. Penyimpangan perilaku ini dapat disebabkan oleh adanya kelainan psikis pada orang yang bersangkutan. Tetapi bisa juga disebabkan adanya stressor yang dari luar maupun lingkungan yang mempengaruhi.Gangguan mental seringkali bersifat fisik contohnya pecandu narkoba bisa menjadi agresif curiga dsb, tergantung dia memakai narkoba yang digunakannya, namun bisa murni gangguan psikologis ( mental ) misalnya depresi berat karena putus cinta atau gagal masuk perguruan tinggi negeri.
Maka dari itu saya akan membahas kesehatan mental tentang fenomena depresi. Apa yang dimaksud dengan depresi? Apa penyebab depresi? dan perawatan apa sih untuk menangani depresi? nah simak ya semoga mengerti


Menurut sarlito sarwono (2012) depresi disebut juga dengan unipolar disorder cirinya adalah low mood yaitu perasaan murung, kehilangan gairah untuk melakukan hal hal yang dilakukannya. Bisa terjadi sekali, sebentar, sering, selama hidup, bisa mendadak berat.


depresi pada orang normal dapat diartikan sebagai keadaan murung (kesedihan , patah hati, dan patah semangat) yang ditandai dengan rasa tidak puas, menurunya aktivitas, dan pesimisme di dalam mengadapi masa datang. Sedangkan depresi secara abnormal dapat diartikan sebagai ketidakmampuan yang ekstrim untuk merespon stimulus dan disertai menurunnya nilai diri, ketidakmampuan, delusi dan putus asa. (Chaplin, 1995)

Misalkan studi kasusnya pada saat pemilu banyak yang ingin menjadi caleg atau ketua dprd. Jika tidak dapat mereka bisa stress dan depresi bahkan bisa gila dikarenakan banyak yang dikeluarkan ( uang, barang, dsb) untuk menjadi seorang caleg.


Dari contoh kasus tersebut disebabkan dari standar tujuan personal yang tinggi dapat berakibat pada pencapaian dan kepuasaan akan diri. Akan tetapi saat manusia menempatkan suatu tujuan yang terlalu tinggi mereka kemungkinan untuk gagal lebih tinggi. Harapan yang terlalu tinggi. Masalah yang kecil terlalu dibesar- besarkan, melakukan penilaian yang salah. Mereka menentukan standar yang tidak realistis dan sangat tinggi, sehingga pencapaian pribadipun dinilai sebuah kegagalan. Cenderung memperlakukan diri dengan buruk karena keterbatasan mereka, dan tidak puas diri. Kegagalan inilah yang menyebabkan seseorang depresi. Bandura (1986,1997) yakin bahwa depresi diffunsi terjadi dalam salah satu dari tiga subfungsi regulasi diri : 1. Observasi diri, 
2. Proses penilaian, 
3. Reaksi diri.

Perawatan untuk menangani seseorang yang depresi adalah jika depresi itu murni tidak diperlukan perawatan, depresi ini terjadi sesekali, sebentar dan ringan. misalkan remaja yang tidak boleh malam mingguan oleh orang tuanya. Depresi yang memerlukan perawatan adalah depresi yang lama dan berat seperti contoh kasus yang tadi sehingga menggangu kehidupan sosial orang yang bersangkutan, termasuk menggangu pekerjaan, pelajaran atau pergaulan. Biasanya dilakukan psikoterapi atau psikiater untuk memberikan obat anti depresan. Namun dukungan dari sekitar, keluarga dan masyarakatlah sangat membantu dalam mengurangi maupun menghilangkan depresi. dengan berbagi cerita masalah kehidupannya. Saling mengerti dan memahami satu sama lain. Dan sebagainya.

Depresi adalah penyakit suasana hati. Jika hati sedang kalut sedih dan depresi bisa menyebabkan aktivitas terganggu, mentalnya turun dan kesehatan maupun jiwanya akan ikut juga terganggu. depresi menyebakan hidup ini tidak ada gunanya, bahkan dapat membunuh diri sendiri entah dengan bunuh diri maupun narkoba. maka bersihkan diri anda dari penyakit depresi jagalah mental anda rajinlah olahraga jika ingin badan dan tubuh yang sehat. Karena “ mensana in conpore sano” didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”



Sumber Refrensi :
Feist, Jess. Feist,Gregory J. (2011) Teori Kepribadian 2. Jakarta: Salemba Humanika
Sarwono, Sarlito W. (2012) Pengantar Psikologi Umum. Cet 4. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

#PsikologiKesehatanMental

 Hubungan antara kesehatan mental dan emosional



Apa itu Kecerdasan Emosional
Kecerdasan Emosional terdiri dari dua kata, yaitu kecerdasan dan emosi. Kecerdasan adalah suatu kemampuan umum dari seseorang dalam hal bagaimana dia memecahkan masalah hidupnya sehari-hari. Kecerdasan juga erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu. Sedangkan emosi berasal dari bahasa Perancis, émotion, dari émouvoir, ‘kegembiraan’ dan dari bahasa Latin emovere, dari e- (varian eks-) ‘luar’ dan movere‘bergerak’. Secara umum emosi adalah perasaan intens yang dikeluarkan/ditujukan kepada seseorang sebagai reaksi dari suatu kejadian, baik senang, marah, ataupun takut. Jadi, kecerdasan emosional atau yang biasa dikenal dengan EQ (Emotional Quotient) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. Pendidikan kesehatan adalah proses membantu sesorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang mempengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain. Definisi yang bahkan lebih sederhana diajukan oleh Larry Green dan para koleganya yang menulis bahwa pendidikan kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudah adaptasi sukarela terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan. Data terakhir menunjukkan bahwa saat ini lebih dari 80 persen rakyat Indonesia tidak mampu mendapat jaminan kesehatan dari lembaga atau perusahaan di bidang pemeliharaan kesehatan, seperti Akses, Taspen, dan Jamsostek. Golongan masyarakat yang dianggap ‘teranaktirikan’ dalam hal jaminan kesehatan adalah mereka dari golongan masyarakat kecil dan pedagang. Dalam pelayanan kesehatan, masalah ini menjadi lebih pelik, berhubung dalam manajemen pelayanan kesehatan tidak saja terkait beberapa kelompok manusia, tetapi juga sifat yang khusus dari pelayanan kesehatan itu sendiri.

Kesehatan Mental itu

Kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa(neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychose)Berbagai kalangan psikiatri (kedokteran jiwa) menyambut baik definisi ini. Seseorang dikatakan bermental sehat bila terhindar dari gangguan atau penyakit jiwa, yaitu adanya perasaan cemas tanpa diketahui sebabnya, malas, hilangnya kegairahan bekerja pada diri seseorang dan bila gejala ini meningkat akan menyebabkan penyakit anxiety, neurasthenia dan  hysteria. Adapun orang yang sakit jiwa biasanya akan memiliki pandangan berbeda dengan orang lain inilah yang dikenal dengan orang gila. Kesehatan mental adalah: kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat sera lingkungan tempat ia hidup.



Hubungan Kesehatan mental dengan Kecerdasan Emosional
orang yang mempunyai kesehatan mental pasti juga memiliki kecerdasan secara emosional sehingga dia dapat berhubungan sosial dengan orang banyak dan orang yang mempunyai kecerdasan emosional adalah orang yang dapat menguasai dirinya agar terhindar dari tekanan perasaan atau hal – hal yang menyebabkan dia frustasi dengan kehidupannya. orang yang cerdas secara emosional ada orang yang akan merasakan kebahagiaan dalam hidup karena tidak diliputi dengan perasaan-perasaan cemas, gelisah, dan ketidakpuasan. Sebaliknya akan memiliki semangat yang tinggi dalam menjalani hidupnya. Untuk dapat menyesuaikan diri dengan diri sendiri, harus lebih dahulu mengenal diri sendiri, menerima apa adanya, bertindak sesuai kemampuan dan kekurangan. Ini bukan berarti  harus mengabaikan orang lain.


Sumber:
Dwinanda, Ferri. 2009. Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Kinerja Karyawan Pemasaran Perusahaan Perbankan ”XxX” Tangerang. Skripsi Fakultas Psikologi Universitas Indonusa Esa Unggul: Jakarta.
Goleman, Daniel. 2002. Working With Emotional Intelligence (terjemahan). PT.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Goleman, Daniel. 2004. Kecerdasan Emosional: Mengapa EI Lebih Penting Daripada
IQ, Terjemahan oleh T. Hermaya. 2004. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.